Senin, 12 Mei 2008

KEMISKINAN 'PEMBUNUH' MASYARAKAT

"Jika pilih saya, saya janji pengangguran tidak ada lagi"
"Jika pilih saya, saya janji tidak ada kemisinan lagi"

Kalimat yang sering dilontarkan oleh para penguasa ketika sedang berkampanye dengan tujuan mempengaruhi masyarakat agar memilih dirinya supaya menjadi penguasa no. 1 di daerahnya. Oleh karena itu para penguasa berlomba-lomba mengeluarkan janji-janji manis bahkan sampai money politic.

Masalah kemiskinan yang 'membunuh' masyarakat yaitu ekonomi yang tidak stabil dan menimbulkan pengangguran merajalela. Pertanyaan yang selalu menggelitik dan ingin sekali mempertanyakan kepada para penguasa, apakah tidak bosan dengan semua janji-janjinya? Banyak sekali janji yang 'diproklamirkan' oleh para penguasa, seperti pengangguran akan berkurang, kemiskinan tidak akan 'membunuh' masyarakat lagi, itulah sebagian dari janji manis yang sering 'diproklamirkan' oleh para penguasa dan masih banyak janji-janji manis itu. Dalam realita kehidupan semua janji-janji manis itu tergantikan dengan kebohongan para penguasa dan penderitaan yang dialai oleh masyarakat.

Pada puncak krisis ekonomi tahun 1998-1999 penduduk miskin Indonesia mencapai sekitar 24% dari jumlah penduduk atau hampir 40 juta orang. Tahun 2002 kemiskinan mencapai 18%, penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan bulan maret 2006 sebesar 39,05 juta orang (17,75%), pebruari 2005 kemiskinan mencapai 35,10 juta penduduk (15,97%). (menurut berita resmi statistik No. 47/IX/1 september 2006).

Melihat presentasi yang ada, begitu banyak masyarakat yang tertimpa oleh kemiskinan, sebuah permasalahan yang harus dipikirkan bersama untuk mencari solusinya. Presiden sampai pemulung selalu bertanya-tanya, kapan kemiskinan yang menimpa masyarakat akan berakhir?, kapan Indonesia terbebas dari guncangan kemiskinan?, kapan tidak ada lagi korban 'pembunuhan' oleh faktor kemiskinan?, dari pemerintahan Soekarno sampai SBY semua jawaban itu belum juga terungkap.

Pepatah mengatakan "yang kaya semakin kaya, dan yang miskin semakin miskin", pepatah itu benar-benar terjadi pada masa sekarang. Sudah banyak orang menderita karena kemiskinan, orang meninggal karena kelaparan, anak-anak menderita busung lapar, sebagian masyarakat dari beberapa daerah memakan nasi aking yang seharusnya dimakan oleh itik agar tidak kelaparan, banyak anak yang putus sekolah, anak di bawah umur terpaksa bekerja keras, masih banyak fenomena yang terjadi di masa sekarang dan itu baru secuil dari penderitaan yang dialami oleh penduduk miskin di Indonesia.

Sebagai manusia yang masih diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk menghirup udara segar, makan makanan yang lezat dan nikmat, masih banyak lagi nikmat yang diberi oleh-Nya kepada kita kenikmatan dan kebahagiaan yang sekarang kira rasakan lebih dari orang yang kurang beruntung. Apakah telinga kita tuli? Apakah mata bathin kita buta?, begitu banyak orang yang mengalami penderitaan. Marilah buka lebar-lebar telinga kita untuk mendengarkan semua keluh kesah mereka, dan buka lebar-lebar mata bathin kita untuk melihat semua penderitaan mereka.

Faktor ekonomi yang tidak stabil menimbulkan pengangguran merajalela mengakibatkan kemiskinan terjadi, selain itu faktor sosial pun sangat mempengaruhi munculnya kemiskinan. Masa sekarang rasa sosial yang dimiliki oleh setiap individu hilang begitu saja karena keegoisan yang sangat besar. Siapa yang ingin mendapatkan jabatan dan pekerjaan?, tentu semua orang menginginkannya tetapi semua orang mampu memilikinya. Tidak bisa dipungkiri Indonesia terpenuhi oleh para koruptor, dengan bebas 'tikus negar' melakukan tindakan yang sangat merugikan masyarakat. Korupsi bisa disebut sebagai penyebab adanya kemiskinan karena sering memanipulasi hal-hal yang sangat penting. Para koruptor tidak peduli orang lain kelaparan, menganggur, busung lapar, yang penting dirinya menggunakan mobil mewah, semua keluarganya bekerja, rumah yang berlantai-lantai padahal uang yang mereka pakai adalah uang rakyat yang seharusnya dipergunakan oleh rakyat, sungguh tidak tahu malu !.

Kemiskinan sudah pantas disebut sebagai 'pembunuh' masyarakat karena ada fakta berbicara dan banyak korban jiwa oleh faktor kemiskinan. Tidak hanya memakan korban jiwa, kemiskinan sudah merenggut mental masyarakat menjadi buruk. Mental diri yang sudah hancur lebur tanpa ragu-ragu akan melakukan pekerjaan atau tindakan yang sebetulnya semua pekerjaan itu termasuk tindak kriminal. Orang yang sudah seperti itu tidak pernah memikirkan apakah pekerjaan atau tindakan yang dilakukan menguntungkan atau merugikan semua pihak, hanya ada dalam pikiran yaitu uang, uang, dan uang.

Pengangguran yang mengakibatkan kemiskinan di berbagai daerah terus menerus memberikan rangsangan untuk melakukan tindak kriminal dan dampak dari semua itu Indonesia tidak nyaman dan tidak tenteram. Hampir 100% yang melakukan tindak kriminal memberikan alasannya yaitu tuntutan ekonomi.

Sudah cukup melihat fenomena yang terjadi di masyarakat Indonesia, seharusnya siapa yang bertanggung jawab dalam permasalahan ini, pemerintah atau masyarakat? Tentu jelas semua orang akan berbeda argumentasi. Profesor terbaik pun belum bisa memecahkan permasalahan ini, masyarakat dan pemerintah harus bisa saling mengerti kondisi dan situasi antara kedua pihak dan hilangkan semua keegoisan yang ada pada diri pribadi. Mari saling memberikan dorongan dan dukungan demi negri tercinta Indonesia.

Sebuah keinginan dan harapan dari rakyat biasa, pemerintah supaya terjun langsung ke lapangan untuk bisa merasakan dan melihat penderitaan masyarakat Indonesia. Semoga permasalahan ini bisa terpecahkan dan masyarakat bisa tersenyum kembali, jangan menangis saudaraku. Hidup Indonesia... Hidup Indonesia... Hidup Indonesia...!!!.

Tidak ada komentar: